Ketika Aku Sarjana Agama tapi Dibilang Kafir Karena Nonton Film Horor
Malam horor yang biasa saja, tapi jadi bahan gibah
Malam itu aku cuma pengin rebahan sambil nonton film horor di YouTube. Judulnya sih agak serem: “Tumbal Keluarga Kontrakan”—tapi dari awal aku sudah tahu, itu cuma hiburan sebelum tidur. Baru juga lima menit film berjalan, tiba-tiba tetangga sebelah nyelonong masuk, lihat sekilas ke layar, lalu nyeletuk, “Lho, Mas nonton ginian? Sarjana Agama kok malah nonton film setan? Nggak takut dosa, Mas?”
Aku cuma bisa senyum kecut. Dalam hati ingin jawab: “Bu, saya memang S.Ag, bukan malaikat. Dan setan di film itu justru kalah jauh lebih sopan dari manusia di dunia nyata.”
Sebagai lulusan fakultas agama, aku sudah terbiasa jadi semacam "poster boy kesalehan" di lingkungan tempat tinggalku. Setiap gerak-gerik dinilai. Pakai baju batik ke warung, langsung dikira mau ceramah. Duduk di teras sambil baca buku tafsir, dikira mau jadi ustaz kondang berikutnya. Dan ketika ketahuan nonton film horor, eh, malah dibilang kafir.
Yang lebih lucu lagi, ada tetangga lain yang pernah menyarankan agar aku "meninggalkan tontonan duniawi" dan lebih baik "mengisi malam dengan tahajud sambil mendengarkan ceramah Ustaz A dan B di YouTube." Padahal, yang ngomong ini aku tahu persis suka nonton sinetron azab, dan marah-marah kalau sinyal TV putus saat iklan minyak angin.
Horor bukan berarti mendukung setan
Sebenarnya, nonton film horor itu bukan bentuk pembangkangan terhadap akidah. Buatku, horor itu semacam reminder kecil bahwa dunia ini bukan sekadar tawa dan senyum, tapi juga ada hal-hal yang bikin bulu kuduk merinding. Bahkan, kadang film horor bikin aku lebih sadar kematian daripada khutbah Jum’at yang isinya jual beli sawah dan sindiran politik.
Aku jadi ingat waktu nonton film Insidious, ada adegan anak kecil kerasukan dan keluarganya sibuk baca-baca kitab untuk menyelamatkannya. Di situlah aku berpikir, "Loh, ini kan semacam perumpamaan batin manusia yang kosong bisa dikuasai setan.” Ternyata film horor pun bisa jadi bahan tadabbur ringan.
Tapi sayangnya, sebagian orang menganggap nonton horor = mendukung setan = jalan menuju neraka.
Aneh juga ya. Seolah-olah setelah menonton film hantu, iman ini langsung luntur, terus dompet bergetar sendiri dan terbang ke dukun. Nggak gitu juga konsepnya, Bu.
Kutukan sosial gelar Sarjana Agama
Mungkin ini yang disebut kutukan sosial terhadap profesi dan gelar. Jadi Sarjana Agama itu seperti disuruh jadi aktor drama suci 24 jam. Harus sopan, harus alim, harus jadi penasihat spiritual dadakan di grup WhatsApp keluarga. Salah jawab, bisa dikeluarin dari grup. Salah komen, bisa di-screen capture buat bahan gibah.
Ada satu kali aku ikut kondangan dan karena capek, aku cuma pakai celana jeans dan kaus. Tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Wah, Mas-nya nggak kelihatan kayak Sarjana Agama, ya.”
Lah, memangnya sarjana agama harus pakai jubah dan sorban terus? Apa nggak boleh tampil kasual sambil ngopi di pinggir jalan?
Padahal, kita belajar agama itu bukan untuk jadi makhluk luar angkasa yang jauh dari realita. Kita belajar supaya bisa hidup dengan hati yang lebih tenang dan bijak—termasuk bijak menonton film.
Standar ganda hiburan
Kadang aku iri sama teman-temanku yang lulus dari jurusan Teknik, Akuntansi, atau Sastra. Kalau mereka nonton film horor, paling-paling disebut "lagi healing" atau "butuh hiburan". Tapi kalau aku yang nonton, langsung dicurigai: “Lho, itu setannya bisa masuk lewat mata, lho!”
Bu, setan zaman sekarang bukan cuma di film. Banyak juga setan yang datang lewat konten YouTube ceramah-ceramah yang bikin orang tambah marah dan mudah mengkafirkan orang lain.
Yang lebih parah, aku pernah ditegur karena upload status tentang film horor di Instagram. Katanya, "Nanti santri-santri bisa ikut-ikutan, loh." Lah, aku bahkan belum jadi ustaz di mana-mana. Status itu buat teman-teman lamaku, bukan untuk khutbah digital.
Kesadaran yang muncul
Tapi di balik semua itu, aku paham. Masyarakat memang cenderung membuat standar sendiri terhadap orang yang dianggap punya "label agama". Lulusan agama = panutan. Lulusan agama = nggak boleh salah. Lulusan agama = harus penceramah, meskipun kadang belum cukup jam terbang atau pengalaman hidup.
Aku terima itu dengan lapang dada. Tapi kadang pengin juga bilang, “S.Ag itu gelar, bukan jubah tak kasat mata.” Kami tetap manusia biasa, punya sisi gelap, punya kegemaran aneh (termasuk nonton film hantu), dan tetap bisa berzikir meski habis merinding ketakutan.
Penutup
Akhirnya, dari semua pengalaman ini, aku jadi sadar: kadang yang bikin kita jauh dari agama itu bukan film horor atau hiburan duniawi, tapi standar masyarakat yang terlalu keras menilai orang lain. Mereka lupa bahwa iman itu naik turun, dan kadang justru meningkat setelah melihat sesuatu yang menyeramkan—baik di film, maupun di dunia nyata.
Jadi, biarlah aku tetap menonton film horor. Takut-takut dikit tidak apa-apa. Yang penting setelah itu aku masih salat, masih zikir, dan masih ingat kalau setan yang paling berbahaya bukan yang nongol di film, tapi yang bisa masuk lewat hati dan pikiran.
Karena kadang, jadi Sarjana Agama bukan soal bisa menjelaskan surah demi surah, tapi bisa tetap waras di tengah ekspektasi umat yang makin absurd.

EmoticonEmoticon